Coretan Seorang Auditor Muda…

Masukan dari Juli 2008

Disuruh Untuk Mengawasi Pintu Supaya Tidak Ada Pencuri

Juli 5, 2008 · 1 Tanggapan

Suatu hari Nasrudin kecil ditinggal ibunya untuk pergi ke rumah Ibu RT. Sebelum pergi ibunya berkata kepada Nasrudin, “Nasrudin, kalau kamu sedang sendirian di rumah, kamu harus selalu mengawasi pintu rumah dengan penuh kewaspadaan. Jangan biarkan seorang pun yang tidak kamu kenal masuk ke dalam rumah karena bisa saja mereka itu ternyata pencuri!”

Nasrudin memutuskan untuk duduk di samping pintu. Satu jam kemudian pamannya datang. “Mana ibumu?” tanya pamannya.

“Oh, Ibu sedang pergi ke pasar,” jawab Nasrudin.

“Keluargaku akan datang ke sini sore ini. Pergi dan katakan kepada Ibumu jangan pergi ke mana-mana sore ini!” kata pamannya.

Begitu pamannya pergi Nasrudin mulai berpikir, “Ibu menyuruh aku untuk mengawasi pintu. Sedangkan Paman menyuruhku pergi untuk mencari Ibu dan bilang kepada Ibu kalau keluarga Paman akan datang sore ini.”

Setelah bingung memikirkan jalan keluarnya, Nasrudin akhirnya membuat satu keputusan. Dia melepaskan pintu dari engselnya, menggotongnya sambil pergi mencari ibunya.

Kategori: humor sufi
Ditandai: ,

GARAM DAN TELAGA

Juli 2, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Suatu ketika, hiduplah seorang tua yang bijak. Pada suatu pagi, datanglah seorang anak muda yang sedang dirundung banyak masalah. Langkahnya gontai dan air muka yang ruwet. Tamu itu, memang tampak seperti orang yang tak bahagia. Tanpa membuang waktu, orang itu menceritakan semua masalahnya. Pak Tua yang bijak, hanya mendengarkannya dengan seksama. Ia lalu mengambil segenggam garam, dan meminta tamunya untuk mengambil segelas air. Ditaburkannya garam itu kedalam gelas, lalu diaduknya perlahan.

“Coba, minum ini, dan katakan bagaimana rasanya..”, ujar Pak tua itu. “Pahit. Pahit sekali”, jawab sang tamu, sambil meludah kesamping. Pak Tua itu, sedikit tersenyum. Ia, lalu mengajak tamunya ini, untuk berjalan ke tepi telaga di dalam hutan dekat tempat tinggalnya. Kedua orang itu berjalan berdampingan, dan akhirnya sampailah mereka ke tepi telaga yang tenang itu. Pak Tua itu, lalu kembali menaburkan segenggam garam, ke dalam telaga itu. Dengan sepotong kayu, dibuatnya gelombang mengaduk-aduk dan tercipta riak air, mengusik ketenangan telaga itu.

“Coba, ambil air dari telaga ini, dan minumlah. Saat tamu itu selesai mereguk air itu, Pak Tua berkata lagi, “Bagaimana rasanya?”. “Segar.”, sahut tamunya. “Apakah kamu merasakan garam di dalam air itu?”, tanya Pak Tua lagi. “Tidak”, jawab si anak muda.

Dengan bijak, Pak Tua itu menepuk-nepuk punggung si anak muda. Ia lalu mengajaknya duduk berhadapan, bersimpuh di samping telaga itu. “Anak muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam garam, tak lebih dan tak kurang. Jumlah dan rasa pahit itu adalah sama, dan memang akan tetap sama. “Tapi, kepahitan yang kita rasakan, akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu, akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita. Jadi, saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu.”

Pak Tua itu lalu kembali memberikan nasehat. “Hatimu, adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu, adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan itu dan merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan.”

Keduanya lalu beranjak pulang. Mereka sama-sama belajar hari itu. Dan Pak Tua, si orang bijak itu, kembali menyimpan “segenggam garam”, untuk anak muda yang lain, yang sering datang padanya membawa keresahan jiwa.

Kategori: story
Ditandai:

3 Pertanyaan

Juli 2, 2008 · 2 Tanggapan

Ada seorang pemuda yang lama sekolah di negeri paman Sam kembali ke tanah air.

Sesampainya dirumah ia meminta kepada orang tuanya untuk mencari seorang

Guru agama, kiai atau siapapun yang bisa menjawab 3 pertanyaannya.

Akhirnya Orang tua pemuda itu mendapatkan orang tersebut.

 

Pemuda   : Anda siapa? Dan apakah bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan saya?

Kyai        : Saya hamba Allah dan dengan izin-Nya saya akan menjawab pertanyaan         anda

Pemuda   : Anda yakin? sedang Profesor dan banyak orang pintar saja tidak          mampu menjawab pertanyaan saya.

Kyai        : Saya akan mencoba sejauh kemampuan saya

Pemuda   : Saya punya 3 buah pertanyaan

1. Kalau memang Tuhan itu ada, tunjukan wujud Tuhan kepada saya

2. Apakah yang dinamakan takdir

3. Kalau syetan diciptakan dari api kenapa dimasukan ke neraka yang dibuat dari api, tentu tidak menyakitkan buat syetan Sebab mereka memiliki unsur yang sama. Apakah Tuhan tidak pernah berfikir sejauh itu?

 

Tiba-tiba Kyai tersebut menampar pipi si Pemuda dengan keras.

 

Pemuda   : (sambil menahan sakit) Kenapa anda marah kepada saya?

Kyai        : Saya tidak marah…Tamparan itu adalah jawaban saya atas 3 buah pertanyaan yang anda ajukan kepada saya

Pemuda   : Saya sungguh-sungguh tidak mengerti

Kyai        : Bagaimana rasanya tamparan saya?

Pemuda   : Tentu saja saya merasakan sakit

Kyai        : Jadi anda percaya bahwa sakit itu ada?

Pemuda   : Ya

Kyai        : Tunjukan pada saya wujud sakit itu !

Pemuda   : Saya tidak bisa

Kyai        : Itulah jawaban pertanyaan pertama.

                  Kita semua merasakan keberadaan Tuhan tanpa mampu melihat wujudnya.

Kyai        : Apakah tadi malam anda bermimpi akan ditampar oleh saya?

Pemuda   : Tidak

Kyai        : Apakah pernah terpikir oleh anda akan menerima sebuah tamparan dari          saya hari ini?

Pemuda   : Tidak

Kyai        : Itulah yang dinamakan Takdir

Kyai        : Terbuat dari apa tangan yang saya gunakan untuk menampar anda?

Pemuda   : kulit

Kyai        : Terbuat dari apa pipi anda?

Pemuda   : kulit

Kyai        : Bagaimana rasanya tamparan saya?

Pemuda   : sakit

Kyai        : Walaupun Syeitan terbuat dari api dan Neraka terbuat dari api, Jika          Tuhan berkehendak maka Neraka akan Menjadi tempat menyakitkan          untuk syeitan.

Kategori: Uncategorized